Senin, 29 Desember 2008

Mimpi Tentang Pagi

Filosofi kupu-kupu sebagai klimaks kebahagiaan dari sebuah metamorfosis sempurna, seringkali digunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup dari tidak terpandang menjadi terpandang, dari si buruk rupa menjadi sesuatu yang elok, dari keterbelakangan menjadi yang terdepan.

Lalu, bagaimana jika kupu-kupu yang menjadi simbol keindahan itu malah terselimut oleh kabut gelap, sehingga mata kita tak mampu memandangnya sebagai satu sosok yang mencolok di antara warna-warni kehidupan? Atau bahkan, jika kupu-kupu itu terjepit, hingga tak bisa terbang kian kemari menunjukkan keindahannya di mata dunia...

KUPU-KUPU TERINJAK SEPATU, TUBUHNYA TERHEMPIT...

KEPALANYA REMUK, SAYAPNYA PATAH, TAK BISA TERBANG...

TAK MAMPU TUNJUKKAN INDAH DIRINYA...

KUPU-KUPU TERINJAK SEPATU, DERITA SAKITNYA SEPERTI AKU...

DISALAHKAN, DAN DISINGKIRKAN

DILUDAHI, DAN DIBENCI...

AIR MATA MENGALIRLAH SUDAH, TERTIMPA BEBAN SUNGGUH

TIADA TARA..

DI PINTU-MU AKU MENGADU... TOLONG HENTIKAN S'GALA DERITAKU!


Sebuah syair lagu yang saya ciptakan untuk pementasan Teater BUIH tahun 2004 menggambarkan suasana ketertindasan dan keterkekangan yang teramat hingga tak mampu bangkit...

Fenomena ketertindasan sungguh ramai terdengar dari sejak dunia mulai beralih pada musim kompetisi.. musim persaingan..
Ketika manusia mulai berusaha menjadikan alam sebagai lawan yang harus ditundukkan, mulai keserakahan menjadi pemicu pertarungan manusia dengan manusia... ketika si kuat menindas si lemah... exploitation de lhome par lhome...

Fenomena ketertindasan memang menjadi topik yang asyik dijadikan lauk pauk percakapan kita di meja makan. Itulah yang coba saya angkat menjadi inspirasi dalam menulis blog-blog saya ke depannya...
Blog yang berisikan mimpi-mimpi kita untuk keluar dari ketertindasan itu..
Mimpi si kurus, si miskin, si penakut, si bodoh, si budak, si orang yang terkesampingkan...

Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar