Senin, 29 Desember 2008

Meja Judi dan Operasi Kulit

Jakarta, Maret 2008... Hujan deras menerpa, becek, sekitar tanjung priok tergenang... kulinting celanaku ketika menuju kantor...

Katanya, Kau mendengar gerutunya setiap
pagi!
Akh, sudahlah....! Ini juga masih
terlalu pagi untuk mulai menggerutu lagi!
Seperti naskah yang pernah ditulis
seorang teman:
“Sementara masjid dan gereja terus saja
melantunkan kotbahnya, kau masih saja
percaya pada keentahan yang purba?”

Lalu apa itu keentahan yang purba? Jika
sang entah itu sudah ada sejak zaman
purba berarti kini dia sudah tinggal
fosil, lalu kenapa masih percaya padanya.
Secara tak sadar aku menelusuri hidup
dengan penuh keentahan, ya aku mengikuti
si fosil yang telah tak populer lagi
ditelan zaman... dikalahkan oleh suara
toa dan microphone di masjid dan gereja!

Padahal tanpa disadari banyak diantara
mereka juga ikut dalam ekspedisi sang entah.
Sebuah perjalanan penuh tanda tanya bukan?

Huhhhfff... masih saja menggerutu lagi!
Tapi dunia sungguh menjadi aneh saat ini.
Dimana-mana ada perlombaan, dimana-mana
ada kompetisi...ya dimana-mana ada
persaingan!
Di rumah, di sekolah, di kampus, di
kantor, di jalanan, di pasar, apalagi di
meja perjudian yang juga kita pakai
untuk makan dan belajar...

Kata teman: “untuk menjadi cantik di
dunia kompetisi sekarang ini, sebenarnya
anda tidak perlu harus ke salon mengecat
wajah anda, mencatok rambut dan
bulu-bulu lainnya (maksudku alis dan
bulu mata). Karena anda cukup
mengoleskan wajah saingan anda dengan
kotoran, maka anda akan jadi yang lebih
cantik dari saingan anda!”

Mungkin benar! Aku harus mengurungkan
niatku untuk operasi kulit!
Hahahahaha.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar