tubuhnya terhempit, kepalanya remuk.. sayapnya patah, tak bisa terbang.. tak bisa tunjukkan, indah dirinya..
Jumat, 03 Juli 2015
Renungan Harian Kamis 2 Juli 2015
Renungan Harian (Kalender Liturgi Katolik)
Kamis 2 Juli 2015
Oleh: Crimson H Sitanggang
Bacaan I Kej.22:1-19, Bacaan Injil Mat.9:1-8
Keselamatan yang dijanjikan oleh Kristus semata-mata bersumber dari Cinta Kasih Allah. Pernyataan tersebut kurang lebih mau mengatakan bahwa Allah-lah yang terlebih dahulu mencintai manusia, bukan sebaliknya.
Dalam bacaan dari Kitab Kejadian (Kej.22:1-19) dikisahkan tentang betapa Allah mencintai Abraham dan keturunannya. Demikian pula dalam Injil Matius (Mat.9:1-8) juga dikisahkan betapa Allah mencintai orang yang menderita sakit, cacat yang dalam kisah ini digambarkan orang lumpuh.
Keselamatan adalah hasil akhir. Dimana setiap manusia yang hidup di dunia, yang percaya kepada Tuhan, mengarahkan pandangannya pada Keselamatan yang abadi. Jika keselamatan tersebut merupakan hasil akhir, maka tentu ada proses menuju keselamatan tersebut. Ada jalan yang harus dilalui untuk menuju keselamatan tersebut. Proses itu seperti dikatakan tadi diawali dengan Cinta Kasih Allah kepada manusia. Lantas apakah proses itu terhenti sampai disitu?
Untuk mendalami lebih jauh coba kita lihat kisah berikut:
KISAH 3 BUAH PARASUT
Pada suatu ketika sebuah pesawat kecil yang dikemudikan oleh seorang pilot dan membawa 3 orang penumpang mengalami masalah saat sedang terbang di udara. Lalu sang pilot berbicara: Saudara sekalian sepertinya pesawat kita akan jatuh, kita akan lompat menggunakan parasut, tetapi di pesawat ini hanya ada 3 parasut, saya akan memakai yang satu supaya saya segera turun dan melaporkan kejadian ini kepada pihak maskapai. Lalu sang pilot melompat dengan sesaat kemudian mengembangkan parasutnya.
Tinggallah ketiga penumpang dengan hanya ada 2 parasut yang tersisa. Adapun ketiga penumpang ini adalah seorang pengusaha kaya, seorang petani, dan seorang lagi adalah pemuda berusia sekitar 30-an tahun rambutnya panjang dan berjanggut. Sang pemuda kemudian berbicara: “Bapak-bapak, saya yakin kita bertiga bisa tetap selamat, kebetulan saya sedikit paham tentang terjun payung, dan saya bisa memastikan 1 parasut nantinya untuk membawa 2 orang. Melihat postur tubuh Bapak (si Pengusaha) yang lebih kecil, saya lebih yakin kalau kita berdua bisa selamat hanya dengan 1 parasut. Sedangkan Bapak yang satunya (si Petani) harus menggunakan parasut sendiri.”
Tetapi dengan sombong sang Pengusaha yang tidak percaya dengan pernyataan si Pemuda itu dan berkata: “saya punya banyak karyawan yang harus diselamatkan dan saya punya uang yang banyak. Jadi saya tidak perlu mendengar ocehan anda, saya yang ambil parasut sendiri!” Dengan segera ia terjun dari pesawat.
Lalu si Petani berkata kepada si Pemuda itu: “Nak, kita tinggal berdua, parasut tinggal satu, kalau kita berdua menaiki parasut itu pasti tidak akan kuat karena badan saya terlalu besar sehingga akan sia-sia. Masa depanmu masih panjang, sementara saya hanyalah petani biasa, ambillah parasut itu dan selamatkanlah dirimu, tinggalkan saja saya di sini.”
Lalu sang Pemuda tadi menjawab: “Tenang Pak, parasutnya masih ada 2, tadi yang diambil si Bapak pengusaha yang sombong itu adalah tas ransel saya!”
Dalam kisah ini, Pemuda berambut panjang dan berjanggut itu kira-kira menggambarkan Allah sendiri sebagai penolong bagi manusia. Dan dikisahkan ada 2 ciri manusia, yang pertama adalah ciri manusia yang tidak pernah mau membuka diri pada pertolongan, atau merasa dirinya adalah yang terhebat sehingga cenderung mengabaikan orang lain, dan bahkan ciri orang seperti ini juga bisa mengabaikan Tuhan. Ciri ini digambarkan oleh sikap si Pengusaha yang sombong tadi.
Sementara ciri yang kedua adalah ciri manusia yang mau menerima orang lain, membuka diri terhadap tuntunan orang lain, bahkan rela mengorbankan diri demi orang lain. Ciri ini digambarkan oleh sikap si Petani yang baik hati.
Kisah ini kurang lebih mau menggambarkan bahwa Allah lebih dulu mencintai manusia. Ia menunjukkan kepeduliannya untuk menolong manusia dalam kesulitan apapun. Allah memberikan Cinta Kasih yang GRATIS. Ia bahkan selalu terbuka setiap saat 7x24 jam seminggu tanpa henti untuk mendengarkan keluh kesah manusia dan siap menawarkan pertolongan dan bimbingan pada manusia.
Akan tetapi sering kali manusia tidak mau membuka diri, manusia seringkali ingin hidup dengan caranya sendiri, sebagaimana si Pengusaha yang sombong tidak mau peduli dan tidak mau membuka diri terhadap tuntunan si Pemuda tadi. Dan akhir dari ketidak pedulian itu adalah maut (jauh dari keselamatan). Sementara si Petani yang baik hati begitu peduli dengan tuntunan si Pemuda, bahkan rela mengorbankan dirinya. Dan buahnya adalah keselamatan.
Dalam Kej.22:1-19 tadi diceritakan bagaimana Allah menunjukkan jalan keluar bagi Abraham, yaitu adanya seekor domba yang tanduknya tersangkut sebagai pengganti Ishak untuk dijadikan kurban bakaran. Allah mencintai Abraham, dan Abraham membalas cinta itu dengan rela memberikan apa saja yang ada pada dirinya, dan Abaraham membuka diri pada keselamatan Allah. Tentulah Abraham meski adalah nabi, juga adalah seorang manusia normal. Dan seorang manusia normal pasti akan bersedih jika anaknya harus mati. Dan pastilah Abraham dalam kesetiaannya kepada Allah juga berdoa dan berharap dalam hatinya supaya Allah menunjukkan belas kasih untuk mengganti Ishak dengan kurban bakaran lain. Hal ini tersirat pada Kej.22:8, dimana Abraham menjawab Ishak yang bertanya dimana domba yang akan dikurbankan, dengan berkata: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya...". Pernyataan ini sesungguhnya adalah wujud pengharapan Abraham sendiri. Abraham dengan iman dan pengharapannya tetaplah yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Dan ternyata Allah tidak diam, iman Abraham serta pengharapannya dibalas Allah dengan keselamatan.
Demikian pula pada Injil Mat.9:1-8 dikisahkan tentang seorang yang lumpuh disembuhkan oleh Yesus. Allah mengasihi orang lumpuh tersebut dan orang lumpuh tersebut membuka dirinya terhadap pertolongan Allah. Pada Mat.9:2 disebutkan bahwa Yesus melihat iman mereka. Iman itu ditunjukkan dengan usaha dah pengharapan yang besar. Dalam versi lain pada Injil Luk. 5:17-26 kisah ini diceritakan sedikit lebih lengkap, yaitu bagaimana orang-orang itu mengangkat si lumpuh bersama tempat tidurnya dan karena kerumunan orang banyak mereka menurunkan si lumpuh itu dari atap. Usaha dan pengharapan yang begitu kuat dari si lumpuh serta orang-orang yang membawanya didasari oleh Iman. Dan Allah membalas iman serta pengharapan mereka dengan kesembuhan si lumpuh.
Kristus adalah pangkal damai dan keselamatan. Ia adalah dokter di atas segala dokter, penyembuh yang maha dasyhat, tidak hanya penyakit badaniah tetapi juga penyakit batin. Dimana pada Mat. 9:6 dinyatakan bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Dosa adalah penghalang bagi berkat Allah, dosa adalah kolesterol yang menghambat aliran Cinta Kasih Allah kepada manusia. Maka agar kita juga disembuhkan dan diselamatkan dari dosa-dosa kita, sebagaimana Allah menyelamatkan Abraham dan Si Lumpuh, hendaklah kita membuka diri kita kepada Cinta Kasih Allah, serta menjaga iman dan pengharapan kita tetap membara. Percayalah Tuhan itu sungguh baik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar